Artikel Penulis Perms Kom Modifikasi Jenis
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Tujuan Penciptaan Manusia Heru Cimay rwxr-xr-x 0 3/23/2011

Filename Tujuan Penciptaan Manusia
Permission rw-r--r--
Author Heru Cimay
Date and Time 3/23/2011
Label
Action

   Setiap penciptaan pasti memiliki tujuan bagi yang menciptakannya, misalkan : Manusia menciptakan komputer untuk mempermudah pekerjaan manusia sendiri. Lalu apakah tujuan Allah S.W.T menciptakan manusia? Dan seperti apakah tujuan manusia pada umumnya? Silahkan dipahami.

   Begitu kita lahir, biasanya di berikan aszan dan iqomah di telinga kanan dan kiri, oleh karena itu, seja lahir kita diperdengarkan akan kebesaran Allah, Menggakui Allah da Rasulullah, mengerjakan shalat dan berbuat kebaikan. Inilah sebenarnya kunci jawaban dari keberadaan manusia di dunia.
   Dalam melaksanakan kehidupan manusia melaksakan Shalat sebagai bentuk keimanan kepada Allah (Hablum Minnallah) dan berbuat baik terhadap manusia dan alam sebagai bentuk hubungan social kemasyarakatan (Hablum Minannass) Terkait dengan tujuan manusia di dunia, Allah berfirman:
“Dan Aku tidak mencciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku (Q.S Adzaariat:56).
   1. Tujuan Umun Adanya Manusia di Dunia.
       Tujuan diciptakan Allah dan berada di dunia untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, arti kata rahmat adalah karunia, kasih sayang bela kasih. Jadi manusia sebagai rahmat adalah manusia diturunkan untuk memberikan kasih sayang bela kasih kepada alam semesta. Oleh karena itu, tidak pantas dalam perilaku hidup umat islam justru menjadi bencana bagi alam. Allah Berfirman :
“Dan tidaklah kami mengutus kamu, melainkan untuk rahmat bagi semesta alam (Q.S Al-Anbiyaa:107).
   2. Tujuan Individu Adanya Manusia di Dunia.
       Tujuan setiap individu di dunia adalah adanya kehidupan yang baik di dunia dan akhirat. Sukses di dunia dan bahagia di akhirat, inilah tujuan setiap orang di dunia. Untuk mencapai itu, maka setiap orang harus mengerjakan amal shaleh. Amal shaleh ini adalah wujud manusia melakukan perbuatan yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang jelek. ALLAH SWT berfirman :
“Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki – laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnyaakan kami beri balasan kepeda mereka dengam pahalayang lebi baik dari apa yang telah mereka kerjakan ”  (QS An-nahl :97).
   3. Tujuan Individu dalam Keluarga
       Tujuan hidup berkeluarga dari setiap manusia adalah supaya tentram untuk menjadi keluarga yang tentram, ALLAH memberikan rasa kasih sayang. Oleh sebab itu dalam keluarga harus dibangun rasa kasih sayang satu sama lain, jangan sampai antara anggota berkonfilk yang menimbulkan kebecian dan kejahat. Dalam keluarga kita bina keterbukaan saling mendengar dan member, dan selalu memperbarui rasa kasih sayang. ALLAH SWT berfirman :
“Dan diantara tanda-tanda  kekuasaan –nya ialah dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenis mu sendiri, supaya kamu cendrung dan merasa tentram, dan dijadikan  -nya diantar kamu rasa kasih sayang, sesungguhnya pada yang demikian itu benar – benar terdapat tanda – tanda bagi kaum berfikir (QS Al ruum : 21).
   4. Tujuan Individu dalam Masyarakat
       Tujuan hidup bermasyarakat adalah keberkahan dalam hidup yang melimpah.kecukupan kebutuhan hidup ini menyangkut kebutuhan fisik seperti perumahan, makan, pakaian, kebutuhan social (bertetangga), kebutuhan rasa aman dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan – kebutuhan tersebut dapat mudah diperoleh apabila masyarakat beriman dan bertaqwa. Apabila masyarakat tidak beriman dan bertaqwa, maka Allah akan memberikan siksa dan jauh dari keberkahan.
”Jikalau sekitarnya penduduk negeri – negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al – Araaf : 96).

Keutamaan Manusia Heru Cimay rwxr-xr-x 0 3/23/2011

Filename Keutamaan Manusia
Permission rw-r--r--
Author Heru Cimay
Date and Time 3/23/2011
Label
Action

   Ketika kita mengenal kata sempurna, kita pasti tertuju kepada keutamaan, meskipun demikian semua yang tidak "semuprna"  bukan berarti tidak memiliki "keutamaan". Lalu sebagai makhluk yang sempurna, apakah keutamaan yang kita miliki dan makhluk lain tidak memilikinya? Dibawah ini pembahasannya.
   Sekalipun dilihat dari segi fisik dan kekuatan lakhiriah manusia merupakan makhluk yang kecil dan lemah. Namun dari segi psikhis dan potensi Internal yang tersimpan dalam dirinya tidak bisa diingkari bahwa manusia adalah makhluk pilihan. Bahkan dari segi tubuhnya yang serba lengkap itu saja telah menjadi miniatur alam raya.
   Dalam perjalanan hidupnya manusia selalu ada dalam pemeliharaan, perlindungan, bimbingan, pengajaran Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia itu selalu dekat dengan Allah dan Allahpun dekat dengannya sebagaimana dinyatakan dalam QS. Qaaf 15:
“Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”.
   Usman Asy Syakir Al Haudawiyyi (dalam terjemahan Rasihi Abdul Gani, mengutif tafsir Hanafi tentang (QS Al-Ahzab 72):
Ketika Adam diserahi amanat ia berkata: “Sungguh gunung, langit, bumi, yang dengan kebesarannya dan keluasannya saja, enggan untuk menanggungnya, maka bagaimana aku makhluk yang lemah seperti ini harus menanggung amanat itu”. Kemudian Allah SWT menjawab: “Sesungguhnya engkau adalah hanya pelaksana dari apa yang aku kehendaki diatas bumi ini. Karena sesungguhnya kekuatannya adalah dari-Ku, maka laksanakan amanat itu”.
   Yusuf Qordhawy menyatakan bahwa “Tidak ada batas dan tidak ada sesuatu yang dapat menghalangi hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Setiap manusia memuja, memuji, berdoa, dan memohon kepada Allah dan memerlukan mediator”. Ini salah satu kemuliaan manusia sehingga setiap setiap permohonannya selalu dikabulkan sebagaimana dinyatakan dalam (QS Al-Mu’Min 60):
“Dan Tuhanmu berfirman mintalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan bagimu sesungguhnya orang yang menyombongkan diri dari beribadat kepada-Ku akan masuklah mereka kedalam jahanam dalam keadaan hina dina”.
Dalam ayat lain yaitu QS Al-Baqarah 168:
“Dan apabila Hamba-Ku bertanya keoadamu tentang Aku,  maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
   Dalam perspektif al-Qur’an “citra diri” manusia yang merupakan wujud dari kepribadian sebenarnya merupakan sinergi dari kualitas daya yang dimiliki oleh dimensi-dimensi fitrah tersebut. Selanjutnya kualitas pribadi manusia tidak terbentuk secara sekaligus, tetapi melalui proses yang panjang dalam proses pendidikan, karena itu manusia wajib menuntut ilmu selama hidupnya. Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barr bahwa: “Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan”. Dalam pernyataan lain disabdakan pula bahwa: “Tuntutlah ilmu meskipuh sampai ke negeri Cina karena sesungguhnya ilmu itu merupakan kewajiban pada setiap orang Islam. Para malaikat meletakkan sayapnya (memayungkan sayapnya) kepada penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang ia tuntut”. (H.R Ibnu Abdul Barr). Kemuliaan  manusia terletak pada potensi yang dimilikinya dari dimensi jasmani (fisik)  rohani (psikis) , dan perpaduan dari keduanya yang disebut dimensi nafs (psikis – fisik). Selanjutnya ibnu taymiah sebagaimana dikutip oleh Mahmud sa’ad al-Thablawiy dalam al-Tasawuf Fill, Ibnu Taymiah (1984; 102 - 105) menyebutkan bahwa fitrah merupakan potensi bawaan manusia, yang ada pada ketiga dimensi manusia tersebut. Potensi bawaan ini ada sejak zaman permulaan penciptaan, yaitu pada alam perjanjian (alam al mitsaq). Fitrah in kemudian menjadi suatu karakter (al-thab’u) yang baik, ini berkembang menuju kesempurnaan (al – mukalimah). Kesempurnaannya karena dibimbing oleh syariah yang diturunkan  (al ­– syari’ah munazalah) Fitrah berarti tauhidullah : manusia lahir dengan tauhid atau tidak dia berkecenderungan untuk mengesahkan Tuhan, dan berusaha secara terus menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tsb.
   Dengan kelengkapan jasmaninya, dia melaksanakan tugas – tugas yang memerlukan dukungan fisik. Dalam perapektif al-Quran “citra diri” manusia yang merupakan sinergi dari kualitas daya yang dimiliki dimensi - dimensi fitrah tersebut. Selanjutnya kualitas pribadi manusia tidak terbentuk secara sekaligus, tetapi melalui proses yang panjang dalam proses pendidikan, karena iu manusia wajib menuntut ilmu selama hidupnya.

Kedudukan dan Fungsi Manusia Heru Cimay rwxr-xr-x 0 3/23/2011

Filename Kedudukan dan Fungsi Manusia
Permission rw-r--r--
Author Heru Cimay
Date and Time 3/23/2011
Label
Action

   Sebagai makhluk ciptaan Allah S.W.T baik itu alam, tumbuhan, binatang, ataupun manusia tentu mempunyai kedudukan dan fungsi masing-masing, misalkan alam beserta isinya, tumbuhan, dan binatang memiliki fungsi untuk mencukupi kebutuhan manusia. Lalu apakah fungsi kita sebagai manusia? Dan seperti apakah kedudukan manusia? Berikut ulasannya.
    
   Status/kedudukan manusia dibumi ini selalu di kaitkan dengan ke khalifahan. Misalnya, Quraisy Shihab (1992) telah membahas masalah kekhalifahan ini. Menurut hasil penelitiannya, bahwa didalam al-Qur’an terdapat kata khalifah dalam bentuk tunggal sebanyak dua kali, yaitu dalam surat al-Baqarah ayat 30 dan shad ayat 26; dan dalam bentuk plural (jamak), yaitu khalaif dan khulafa’ yang masing-masing sebanyak empat kali dan tiga kali. Keseluruihan kata tersebut menurutnya berakar pada kata “khulafa” yang pada mulanya berarti “dibelakang”. Dari sini, kata khalifah menurutnya seringkali diartikan sebagai”pengganti”.
   Dalam uraian selanjutnya Quraish Shihab menyatakan segi penggunaan istilah-istilah tersebut. Dengan mengacu kepada ayat yang artinya: “Dan Daud membunuh Jalut, Allah memberinya kekuasaan/kerajaan dan hikmah serta mengajarkannya apa yang Dia kehendaki”. Quraish Shihab menyatakan bahwa kekhalifahan yang dianugerahkan kepada Daud as, bertalian dengan kekuasaan mengolah wilayah tertentu.  Hal ini diperolehnya berkat anugerah illahi yang mengajarkan kepadanya al-Hikmah dan ilmu pengetahuan sebagaimana disebutkan itu memberikan petunjuk yang jelas tentang adanya kaitan yang erat antara pelaksanaan fungsi kekhalifahan dengan pendidikan dan pengajaran, yaitu untuk dapat melaksanakan fungsi kekhalifahan itu sebagai khalifah (wakil Tuhan), untuk melaksanakan segala yang diridhai Allah SWT.
   Sebagai khalifah diatas bumi ini manusia memiliki peranan untuk mengkulturkan natur dan dalam waktu yang sama untuk meng-Islamkan kultur. Untuk memainkan perannya manusia diperlengkapi Allah dengan berbagai macam hidayat (insting, indera, akal, agama, dan hidayat taufiq). Kepada manusia dianugerahkan beberapa kebebasan memiliki (limited  free-will), dengan konsekuensi tanggung jawab yang ditanggung secara individual pada hari Akhirat, dimana segala indera dan alat badani lainnya dijadikan sebagai saksi. Baik yang berbuat kebajikan maupun yang berbuat kejahatan, bagaimana kecilpun, niscaya bakal dinampakkan. Disamping kedudukan sebagai khalifah (wakil Allah), dalam waktu yang sama manusia itu sebagai Abdullah (Hamba/Pengabdi Allah), dengan tugas melaksanakan ibadah (pengabdian) dalam arti yang seluas-luasnya kepada Allah. Beribadah itu pada hakikatnya adalah dalam rangka melaksanakan fungsi kekhalifahan dan kehambaannya. Sementara itu, Musa Asy’ari menyatakan bahwa esensi ‘abd adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan yang semuanya itu layak diberikan kepada Tuhan.
   Ketika pengertian ibadah ini dihubungkan dengan pengertian khalifah, dapat diperoleh pemahaman bahwakedudukan sebagi khalifah adalah sebagai pengganti, ia memegang kepemimpinan dan kekuasaan yang ada. Oleh karena itu, esensi seorang khalifah adalah kreatifitas. Sedangkan seorang ‘abd adalah ketaatan dan kepatuhan. Dengan demikian kedudukan manusia dialam raya ini disamping sebagai khalifah yang memiliki  kekuasaan untuk mengolah alam, dengan menggunakan segenap daya potensi yang dimilikinya, juga sekaligus sebagai ‘abd yang keseluruhan usaha dan kreatifitasnya itu harus dilaksanakan dalam rangka mengabdi kepada Allah.
   Orang yang beriman memandang manusia sebagai makhluk yang mulia dan terhormat disisi Allah. Manusia diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya setelah kedalam jasadnya ditiupkan ruh ketuhanan maka para malaikat diperintahkan untuk bersujud, menghormat, kepadanya, diberi ilmu dan kehendak, dijadikan khalifah di atas bumi yang merupakan central aktivitas alam raya semua yang dilangit dan di bumi bekerja untuk kepentingan manusia. Seluruh makhluk alam raya berhidmat kepada manusia, sedangkan Allah menciptakan manusia untuk berhidmat kepada Allah SWT. Keadaan ini telah diatur dalam rencana Allahsebagai mana dinyatakan dalam firman-Nya QS. Al-Baqoroh: 29 (Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu semuanya) dan QS adz-Dzariyat: 56 (Dan tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk menyembah-Ku). Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kemuliaan manusia itu bukan karena entitas atau keberadaan wujud manusia tetapi karena fungsi atau relasi antar manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungannya (hablum minallah, wa hablim minannas, dan hablum minal alam). Karena lingkungan diperuntukkan manusia maka relasi yang pokok dinyatakan dua saja yaitu relasi dengan Allah dan relasi dengan sesama manusia. Bagi manusia yang tidak mampu menghubungkan kedua relasi ini mereka akan berada dalam kehinaan dan kerendahan, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah, mengingkari rencana Allah, melanggar program Allah. Allah menjelaskan keadaan ini dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah 61).
“Ditimpakan kepada mereka kehinaan, kerendahan, kenistaan, dan kemurkaan dari Allah, hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah, dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan".
Dan (QS Ali-Imran 112):
“Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemakmuran dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas”. Dari ayat tersebut kita dapat memahami adanya tiga entitas yaitu Allah, manusia, dan ayat-ayat Allah yang terdiri dari ayat tanziliyah (Al-Qur’an) dan ayat kauniah (alam semesta). Manusia akan hina dan rendah apabila tidak mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan ketiga entitas tersebut. Semua bentuk relasi manusia dengan ketiga entitas itu mempunyai dua kemungkinan, yaitu: Khaerun (baik) sesuai dengan program Allah, dan Syarrun (jelek) tidak sesuai dengan program Allah. Bila relasi itu didasarkan di diorientasikan terhadap Allah semata (berperilaku sesuai dengan hukum-hukum Allah) ikhlas sepenuhnya mengabdi kepada Allah (melaksanakan fungsi kehambaannya). Ini berarti sesuai dengan perintah Allah. Sebagai mana dinyatakan-Nya dalam Al-Qur’an surat Al-Bayyinah 5:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.
   Perilaku yang demikian disebut beriman dan beramal shaleh yaitu amalnya orang yang baik dan akan diberi hadiah (pahala) oleh Allah berupa jannah (syurga) yang mengalir dibawahnya sungai-sungai yang kekal didalamnya dan senantiasa ridla kepada Allah dan di ridla Allah, mereka itulah yang digolongkan orang yang takut kepada Allah. Sebagaimana dinyatakan Allah dalam QS Al-Bayinnah 7-8 sebagai berikut:
Inilah dua jalan yang ditunjukkan Allah sebagaimana Firman-Nya, dalam QS Al-Balad 10:
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”, Yang dimaksud dengan dua jalan ialah jalan orang yang beriman (kebajikan) dan jalan orang kafir (kejahatan). Manusia diberi kemerdekaan untuk memilihnya, mau mempertahankan kemuliaannya atau mau hina, dua jalan itu sudah jelas akibatnya dan Allah tidak akan memaksa manusia untuk memilih jalan agama-Nya sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya QS Al-Baqarah 256:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh pada buhul tali yang amat kuat tidak akan putus. Dan Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.
Dan Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.

   Dengan memperhatikan uraian diatas maka fungsi manusia adalah melaksanakan aturan-aturan Allah baik ia sebagai Khalifah maupun sebagai hamba dengan seikhlas-ikhlasnya dengan menghilangkan pamrih kepada yang lain, pamrih dari segala perbuatan hanya hanya semata-mata kepada Allah.
   Orang yang hidupnya sesuai dengan agama Islam itu adalah orang yang bersyukur dan orang yang meninggalkan aturan Islam disebut orang kufur (menutupi ajaran Islam dengan yang lain) misalnya dengan materi, hawa nafsu, jabatan dan lainnya. Hidup teratur ini merupakan suatu keutamaan manusia, karena itu manusia harus memelihara keharmonian antara aturan dan perilaku.

Hakikat Manusia Heru Cimay rwxr-xr-x 0 3/23/2011

Filename Hakikat Manusia
Permission rw-r--r--
Author Heru Cimay
Date and Time 3/23/2011
Label
Action

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah S.W.T yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Apakah yang menjadikan manusia sempurna di bandingkan makhluk lainnya? Lalu sebenarnya dari apakah manusia itu diciptakan? Dan bagaimana proses penciptaan manusia? Postingan saya berikut ini bertujuan mengulas dan mendeskripsikan kepada anda agar anda mengetahui maksud dari "manusia sempurna" dan "dengan apa manusia diciptakan" serta "proses penciptaan manusia".


Di bawah ini dikemukakan beberapa kesimpulan yang ditarik dari al-Qur’an tentang manusia pada umumnya :
   1. Manusia itu pertama sekali diciptakan Tuhan dari tanah (Al-Hajj 5); (Al-Ruum 20); (Faathir 11); (Al-Mu’min 67).
   2. Penciptaan selanjutnya dari air (Al-Furqon 54). “Kami jadikan manusia itu dari sari pati tanah. Kami jadikan sari pati itu nutfah, tersimpan aman dalam rahim kukuh. Dari nutfah kami jadikan segumpal darah. Dari darah Ku jadikan segumpal daging. Dari daging Ku jadikan tulang belulang. Tulang belulang disampul daging. Kami jadikan makhluk berbentuk lain. Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta”. (Al-Muminuun [23]: 12-16).
 

Template Edited © 2011 By Cimay Noobs | Blog Newbie
Original Design By p4r46hcyb3rn3t